Friday, February 18, 2011

My Dear Kou-san


Aku masih ingat waktu pertama kami ketemu.
Siang itu April 2000, pintu kamarku diketuk. Saat kubuka, seorang gadis sipit berdiri di sana sambil tersenyum. Dia perkenalkan diri, “Nama saya Kou.” begitu katanya dalam bahasa Jepang, yang terus terang susah kupahami. Kou-san, begitulah kupanggil dia.

Sejak hari itu Kou-san sering main ke kamarku, bawa makanan, CD lagu-lagu atau sekedar ngobrol. Kebanyakan memang untuk ngobrol. Kami makin akrab. Kou-san baik sekali padaku. Aku merasa dia adalah perwujudan doa ayah ibuku yang jauh di Jakarta untuk jadi seseorang yang menjagaku. Seseorang yang dikirim Tuhan untuk jadi temanku, teman yang baik, sangat baik.

Buatku itu pertama kalinya aku jauh dari keluarga, sangat jauh bahkan. Dan Kou-san adalah orang pertama yang menyambutku di negeri dingin itu.
Kou-san memanggilku Senpai, artinya senior. Karena meskipun aku 4 tahun lebih muda darinya, dari tingkatan kuliah, aku lebih senior.
Aku senang dipanggil Senpai, Kou-san juga senang memanggilku begitu. Karena dengan memanggilku begitu, dia punya alasan untuk sesekali manja padaku. Hehehehe, lucu. Padahal seringnya, dialah yang menjagaku, mengantarku kerja part time, dan membuatkan sup ayam jamur jahe saat musim salju datang. Sebenarnya sup itu rasanya aneh sungguh (sumpah!!), tapi memang membuat badan jadi hangat. Aku mau menangis waktu Kou-san mengantarkan sup itu ke kamarku, tapi aku malu.
Ah, Kou-san… yasashii ne.

Biasanya Kou-san banyak bicara dan aku banyak mendengar. Tapi kalau aku cerita tentang dia, Kou-san langsung jadi pendengar yang baik.
Kou-san selalu mendengarkanku dengan mata berbinar tiap kali aku bicara soal “Memphis” (itu nama pemberian Kou-san buat dia karena katanya dia seganteng tokoh Memphis di komik favoritnya).
Kou-san suka Memphis, berkali-kali dia meyakinkanku agar menghubungi Memphis setiba di Jakarta nanti. Kou-san bahkan bilang, kalau dia laki-laki dia pasti jatuh hati padaku. (hehehehe - agak serem dengernya, tapi aku tau dia cuma ingin menghiburku, menyemangatiku)
Ah, Kou-san… yasashii ne.

Kadang aku dan Kou-san bicara soal agama, Tuhan, cita-cita dan gender. Euhm… topik yang berat. Kou-san percaya ada Tuhan tapi nggak beragama, dia juga nggak mau menikah tapi ingin jatuh cinta.
Katanya dalam 26 tahun hidupnya, dia belum pernah jatuh cinta. Wah, luar biasa?
Aku ingin lihat Kou-san jatuh cinta. Aku penasaran bagaimana jadinya kalau si cantik yang tomboy ini jatuh cinta.

April 2009, 9 tahun berlalu sejak aku kenal dia datanglah kabar itu.
Kou-san jatuh cinta. Seorang pria baik asal Thailand, berhasil mencuri hatinya. Dia terdengar sangat bahagia, aku juga ikut bahagia.
Temanku yang cantik, tomboy dan manja melabuhkan hatinya pada seorang pria sederhana, sangat sederhana.

Beberapa hari lalu Kou-san mengirimiku foto putrinya, Taira. Gembil, putih, sipit, cantik seperti ibunya.
My dear Kou-san… yasashii Kou-san, kokoro kara oshiawaseni narimasuyou…

No comments:

Post a Comment