Thursday, May 26, 2011

Kumpulan puisi kesukaan - 1

*
Wajahmu Di bawah Sinar Matahari

Terik matahari penghujung Desember, silau, menyengat.
Aku tak suka panas, panas selalu membuat kepalaku pusing.
Lalu… ada yang menghampiri.
Mengherankan, dalam sekejap pandanganku jadi teduh.
Bukan karena awan, bukan karena angin.
Yang kulihat sangat biasa, sangat sederhana tapi indah.
Sungguh indah…
Wajahmu di bawah sinar matahari.

Jl. Panjang, Desember 2008

Puisi ini, puisi ketiga yang saya tulis setelah belasan tahun berlalu dari puisi kedua.
Puisi pertama, raib entah kemana tanpa sempat saya dokumentasikan. Puisi kedua, saya buang karena kata teman saya isinya sangat ‘menggelikan’.
Puisi ketiga ini adalah yang sejujur-jujurnya yang saya rasakan tentang wajah seseorang. Yang memang sangat biasa, sederhana… di waktu bersamaan juga sangat indah. Kok, bisa? Mungkin karena mata saya menatapnya dengan cinta? (hallah!)



*
Pada Sebuah Bangku

Pernah aku duduk berdua denganmu di bangku itu,
Hanya berdua saja.
Kau diam
Aku diam.
Tak terurai kata yang terpendam di dasar hati.
Diam
Hanya diam.
Merangkai detik demi detik,
Menit demi menit.
Daun-daun jatuh,
Angin berhembus perlahan.
Kita tetap saja diam.
Kini,
Beribu jarak berlalu.
Aku kembali duduk di bangku itu
Sendiri.
Dalam diam
Dalam sunyi
Sendiri.

July 28th 2008, 17.04
(For my very best friend ; gambatte ne, anata nara zettai dekiru to omou yo!)


Ini jadi puisi favorit saya karena menurut sahabat saya, puisi ini terinspirasi dari cerita saya padanya tentang kenangan di sebuah bangku, di tepi danau UI belasan tahun yang lalu.
Itsumo ouenshite kurete arigatou… ^_^


*
Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono, 1994

Dua hal yang membuat saya sangat suka puisi ini, karena tentang hujan dan dituturkan dengan bahasa yang sangat sederhana.



*
Angin menyeret mendung, menggoyang beringin di seberang jalan.
Daun keringnya gugur berhamburan di Otista Raya.
Lagi-lagi aku ingat kamu.
Waktu memang cepat berlalu.
Jakarta memang banyak berubah.
Tapi aku tidak.
Jatuh cinta cuma sekali, dan itu pernah terjadi.

Aris Nugraha, Catatan Gunung Sahari, 1993

Saya kurang yakin judul puisi ini. Jatuh cinta Cuma sekali atau Catatan Gunung Sahari, ya? Bagian terfavorit dari puisi ini adalah 3 kalimat di bagian akhir. Walaupun pada kenyataan saya juga berubah, tuh.