Dalam perjalananku padamu
Allah izinkan aku berkali-kali terjatuh.
Jatuh hati, lalu jatuh dalam kesedihan patahnya, berkali-kali…
Tapi Allah tak pernah membiarkanku tersesat.
Karena di tiap seokan langkahku yang gemetar,
DIA bimbing hatiku semakin dekat padamu.
Bersabarlah,
aku segera tiba.
Monday, November 15, 2010
Friday, October 22, 2010
Bisakah
Bisakah kau menjadi biasa saja? Jadi indah hanya untukku saja?
Jangan menjadi bintang yang bisa dinikmati
dan dirasakan kehadirannya justru dari kejauhan.
Tak perlu jadi bintang.
Tetaplah di dekatku dengan indahnya kesederhanaanmu,
aku suka itu.
Jangan menjadi bintang yang bisa dinikmati
dan dirasakan kehadirannya justru dari kejauhan.
Tak perlu jadi bintang.
Tetaplah di dekatku dengan indahnya kesederhanaanmu,
aku suka itu.
Friday, August 27, 2010
Waktu aku
Waktu aku menangis,
kau tak pernah tanya kenapa atau memintaku berhenti menangis.
Kau hanya menggenggam tanganku
lalu berkata akan menemaniku bersabar.
Aku mencintaimu untuk itu.
Waktu aku tertawa,
kau memandangiku dengan senyum sempurna.
Karena aku adalah permatamu, harapanmu, kekuatanmu, tujuan hidupmu
sejak hari pertama Tuhan mengamanahkanku padamu.
Dan aku mencintaimu untuk itu.
Di dunia ini tak ada lelaki yang bisa mengalahkan cintamu padaku.
Maka, jika ada yang sanggup mencintaiku dengan separuh saja besar cintamu padaku, dia pasti akan membuatku bahagia.
Itulah katamu dan sungguh, aku mencintaimu untuk itu.
Karena kau begitu mencintaiku,
kuminta teruslah bersabar bersamaku sampai hari itu tiba.
Hari di mana dia menemukanku.
Untuk lelaki tersayang…
Selamat ulang tahun, Bapak.
kau tak pernah tanya kenapa atau memintaku berhenti menangis.
Kau hanya menggenggam tanganku
lalu berkata akan menemaniku bersabar.
Aku mencintaimu untuk itu.
Waktu aku tertawa,
kau memandangiku dengan senyum sempurna.
Karena aku adalah permatamu, harapanmu, kekuatanmu, tujuan hidupmu
sejak hari pertama Tuhan mengamanahkanku padamu.
Dan aku mencintaimu untuk itu.
Di dunia ini tak ada lelaki yang bisa mengalahkan cintamu padaku.
Maka, jika ada yang sanggup mencintaiku dengan separuh saja besar cintamu padaku, dia pasti akan membuatku bahagia.
Itulah katamu dan sungguh, aku mencintaimu untuk itu.
Karena kau begitu mencintaiku,
kuminta teruslah bersabar bersamaku sampai hari itu tiba.
Hari di mana dia menemukanku.
Untuk lelaki tersayang…
Selamat ulang tahun, Bapak.
Monday, August 23, 2010
Untuk sementara
Aku dapati dirimu di antara serakan awan,
diantar angin yang kucium pagi ini.
Untuk sementara, cukuplah ini buatku
…
…
…
sampai tiba saatnya nanti
diantar angin yang kucium pagi ini.
Untuk sementara, cukuplah ini buatku
…
…
…
sampai tiba saatnya nanti
Thursday, July 15, 2010
Bangku Kayu

Ayo kita bertemu lagi
di bangku kayu, di tepi danau itu
Aku tahu ada banyak yang ingin kau katakan.
Aku janji kali ini aku takkan angkuh, takkan keras kepala
akan kupercaya semua katamu, ceritamu, alasanmu
Ayo kita bertemu lagi
di bangku kayu, di tepi danau itu
Ada banyak yang ingin kutanyakan
tentang puisi yang tak selesai, tentang anak-anakmu, tentang cintamu yang bukan aku
Aku janji kali ini aku takkan berlaga kuat
karena aku memang tak kuat dan kau tahu itu, kan?
Ayo kita bertemu lagi… aku rindu
Thursday, April 1, 2010
Sakura meranggas, menunggu musim semi
Alhamdulillah, berkali-kali aku lantunkan dalam hati saat pesawat yang kutumpangi mendarat. Dari jendela aku lihat pesawat bergerak menuju hangar. Narita… ya, aku sudah tiba di Jepang!
Subhanallah, itulah yang kemudian terlafaz dari bibirku. Narita, Tokyo, setelah 9 tahun berlalu, aku kembali lagi ke negeri dingin ini. Nggak berlebihan kalau aku bilang negeri ini dingin, karena memang begitulah faktanya. Saat mendarat jam 7 pagi tadi, pilot bilang cuaca sekitar -2 derajat. Wow bayangkan, dari Jakarta yang 29-30 derajat celcius terjun bebas ke suhu minus! Ya Allah, semoga aku nggak masuk angin selama di sini. Sungguh nggak enak sakit di negeri orang, sendirian, nggak ada teman apalagi ibu yang biasanya langsung sigap mengurusku.
Keluar dari bandara jam 9 pagi, suhu mulai menghangat. Dari penanda suhu yang terpasang di depan lobby tertera suhunya 4.9 derajat, jauh lebih hangat dari -2, tapi tentunya masih teramat sangat dingin buat manusia tropis seperti aku.
Seakan melengkapi penyambutanku di negeri dingin ini, hujan turun, hujan yang indah. Aku sangat suka hujan di Jepang, yang kuingat butirannya lembut, ringan tertiup angin. Kali inipun sama, meski dingin, aku nikmati hujan yang menyambutku hari ini dan angin musim dingin menampar-nampar pipiku, pipiku jadi merah, hidungku juga merah… ah, nihon, yappa samuidane.
Sesuai janjiku (pada diri sendiri), aku teriakkan nama kamu di bawah rintik hujan, lho. Kedengaran, nggak?
Bus yang mengantarku menuju hotelpun tiba. Aku duduk paling depan, sengaja supaya bisa melihat pemandangan, begitu pikirku. Ternyata nggak banyak yang berubah. Sepanjang jalan, aku lihat pohon-pohon tanpa daun, gedung-gedung tinggi, kotak-kotak, kelihatan kokoh, kaku dan dingin. Dan aku harus bertarung melawan dingin ini selama 6 hari ke depan.
Aku terus meyakinkan diri telah tiba di Tokyo. Sejujurnya aku masih susah percaya, ini seperti mimpi dan nggak pernah terbayang olehku bisa ke sini lagi. 10 tahun lalu, aku dan 4 orang teman berjanji akan reuni di Tokyo tepat di tahun 2010 ini. Dan Subhanallah, aku memang ke sini lagi, tapi sendiri tanpa mereka, dingin pula!
Euhm, 10 tahun lalu… pikiranku lalu berlari ke masa itu, dan “hehehehe” aku ingat sesuatu.
Kalau kamu pikir, meneriakkan namamu di bandara adalah perbuatan konyol dan norak, aku pernah melakukan yang lebih konyol dari itu. Mendaki gunung Fuji! Yap, aku nekat mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 3700 m itu demi satu tujuan, “meneriakkan nama seseorang dari puncaknya.” Aku pernah dengar, jika kita meneriakkan nama seseorang dari puncak Fuji, maka angin dewa akan membawa teriakan hati kita ke orang itu, so I did it.
Hari-hari aku lewati dengan sangat sibuk, sangat lelah. Suhu yang dingin, orang-orang yang dingin. Manusia Tokyo bergerak sangat cepat, bergegas seperti tergesa-gesa. Kenapa, ya? Warna pakaian mereka senada, gelap. Hanya ada satu, dua orang yang terlihat berani tampil beda memakai warna terang. Waktu kuliah, aku pernah belajar tentang ini, tapi tetap saja hatiku bertanya-tanya. Sambil mencari jawabnya, kakiku mulai bergerak seperti mereka, cepat, bergegas, nggak lagi sempat tengok kanan-kiri. Selama di sana, berkali-kali aku diguyur hujan, dingin tentunya tapi aku suka hujan, kamu tahu itu, kan?
6 hari yang sangat melelahkanpun berlalu, waktunya kembali ke Jakarta!
Hari itu cuaca sangat ramah, suhu 20 derajat, hangat, pertama kalinya sejak tiba di sini aku merasakan silau dan hangatnya sinar matahari.
Bus kembali mengantarku ke Narita. Kali ini aku nikmati tiap sudut Shinjuku yang kulalui sambil berucap Alhamdulillah. Kupandangi pohon sakura yang gundul, berjajar sepanjang jalan. 1 bulan lagi, jalan ini pasti akan sangat indah dengan sakura yang bermekaran.
Aku ingin kembali lagi ke sini, kali nanti, aku ingin denganmu. Ada banyak yang ingin kuperlihatkan padamu, ingin kubagi denganmu. Dalam hati kulantunkan itu, doa untuk kita, semoga Allah mengabulkannya.
Matahari sore makin hangat mengusap pipiku. Ah, aku makin kangen Jakarta, kangen kamu. Oleh-oleh buatmu kujaga baik-baik, seperti pintamu.
- Catatan perjalanan akhir musim dingin, 28 februari~5 Maret 2010 -
Subscribe to:
Posts (Atom)
