Cemburu adalah
Pedih yang menyerbu dadaku tiap kali mengingat
pernah kau lalui ribuan harimu untuk mencintainya, memahaminya.
Cemburu adalah
Pilu yang menyesaki hatiku saat mendapatimu
mengizinkan luka yang ditinggalkannya melemahkanmu, mengikis ketegaranmu.
Cemburu adalah
Sekutu rindu, sayang dan rasa takut kehilangan… pilar cintaku padamu./>Jakarta 23 September 2009
Thursday, September 24, 2009
Thursday, September 3, 2009
La Tahzan - bahkan waktu hujan
Untuk kaki yang pernah berdiri gemetar
Teruslah istiqamah menyempurnakan ihtiar
Percayalah doa-doa malammu pasti dipeluk Tuhan.
Untuk hati yang sempat terisi, lalu ditinggalkan
Teruslah menguat dengan kesabaran
Berserahlah pada kebaikan Tuhan yang telah melembutkan kerasmu dengan pedihnya kehilangan.
Untuk cinta yang hampir mekar, lalu diabaikan
Teruslah tumbuh dalam keikhlasan
Jangan tanya kenapa kau bertepuk sebelah tangan
Sesungguhnya Tuhan tengah memperindahmu untuk dipersembahkan.
Teruslah istiqamah menyempurnakan ihtiar
Percayalah doa-doa malammu pasti dipeluk Tuhan.
Untuk hati yang sempat terisi, lalu ditinggalkan
Teruslah menguat dengan kesabaran
Berserahlah pada kebaikan Tuhan yang telah melembutkan kerasmu dengan pedihnya kehilangan.
Untuk cinta yang hampir mekar, lalu diabaikan
Teruslah tumbuh dalam keikhlasan
Jangan tanya kenapa kau bertepuk sebelah tangan
Sesungguhnya Tuhan tengah memperindahmu untuk dipersembahkan.
Friday, August 7, 2009
Kangen
"Lain kali nggak perlu capek-capek teriak dari atas gunung, kali. Bilang aja langsung, bisikin pelan-pelan ke telinganya. Cara itu lebih efektif dan dijamin manjur, deh.”
Itulah reaksi temanku waktu aku cerita tentang kelakuan maha nekatku (baca konyol) saat kangen seseorang. Kangen… salah satu kondisi yang membuatku mati kutu, nggak berdaya, nggak tau mesti gimana.
Kalau lagi “dihajar” rasa ini, paling-paling aku cuma bisa curhat di diary atau bahkan menangis.
Tapi kali itu aku mau bertindak, berbuat! Maka kuputuskan ikut tur mendaki gunung Fuji, akhir Juli 2000 silam. Niatku sederhana sekaligus konyol, aku ingin meneriakkan nama dia -seseorang yang bertahun-tahun aku rindukan- dari atas gunung itu.
Katanya kalau berteriak dari tempat Para Dewa (Jepang) bertahta, angin Dewa akan membawa suara kita ke hati orang itu, dan dia akan merasakan rindu yang kita pendam untuknya (aku lupa dari siapa dan di mana aku dengar hipotesa ajaib ini. Aih, sungguh tak bertanggung jawabnya diriku).
Maka berangkatlah aku menuju puncak Fuji dengan bertonton rindu menyesaki dada (hallah). Begitu sampai di tempat tujuan… sekuat tenaga, dengan segala lelah tubuh, haus dan kangen, aku teriakkan namanya…
Setelah diteriakkan, hilangkah rasa kangen itu? Sama sekali tidak.
Terdengarkah olehnya?
Benarkah angin dewa menghembuskan jerit hatiku hingga tiba di hatinya?
Sadarkah dia, aku sangat merindukannya?
Tahukah dia, aku daki ribuan kilo untuk meneriakkan namanya?
Mungkin tidak… entahlah… aku nggak pernah sempat bertanya, karena kami nggak pernah ketemu lagi.
Tapi aku lega sekali bisa melakukan itu. Aku lega dan bangga sanggup menempuh ribuan kilo demi menyampaikan isi hati yang pastinya nggak akan sanggup kukatakan sambil menatap matanya karena buatku itu butuh lebih banyak keberanian dan kekuatan.
Tahun-tahun berlalu, masihkah aku rindu padanya? Ya, kadang-kadang.
Dan bukankah jika kita menyimpan seseorang dalam hati kita, akan ada satu saat dalam hidup kita di mana kita sangat merindukan orang itu.
Maka biarlah, nikmati saja.
Semoga kelak kalau aku kangen seseorang, aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk mengatakannya, tanpa perlu berteriak, tanpa perlu nekat mendaki gunung. Aku hanya harus jujur dan tulus, mengatakan apa yang kurasa sambil menatap matanya dan berbisik pelan… “Aku kangen kamu.”
Itulah reaksi temanku waktu aku cerita tentang kelakuan maha nekatku (baca konyol) saat kangen seseorang. Kangen… salah satu kondisi yang membuatku mati kutu, nggak berdaya, nggak tau mesti gimana.
Kalau lagi “dihajar” rasa ini, paling-paling aku cuma bisa curhat di diary atau bahkan menangis.
Tapi kali itu aku mau bertindak, berbuat! Maka kuputuskan ikut tur mendaki gunung Fuji, akhir Juli 2000 silam. Niatku sederhana sekaligus konyol, aku ingin meneriakkan nama dia -seseorang yang bertahun-tahun aku rindukan- dari atas gunung itu.
Katanya kalau berteriak dari tempat Para Dewa (Jepang) bertahta, angin Dewa akan membawa suara kita ke hati orang itu, dan dia akan merasakan rindu yang kita pendam untuknya (aku lupa dari siapa dan di mana aku dengar hipotesa ajaib ini. Aih, sungguh tak bertanggung jawabnya diriku).
Maka berangkatlah aku menuju puncak Fuji dengan bertonton rindu menyesaki dada (hallah). Begitu sampai di tempat tujuan… sekuat tenaga, dengan segala lelah tubuh, haus dan kangen, aku teriakkan namanya…
Setelah diteriakkan, hilangkah rasa kangen itu? Sama sekali tidak.
Terdengarkah olehnya?
Benarkah angin dewa menghembuskan jerit hatiku hingga tiba di hatinya?
Sadarkah dia, aku sangat merindukannya?
Tahukah dia, aku daki ribuan kilo untuk meneriakkan namanya?
Mungkin tidak… entahlah… aku nggak pernah sempat bertanya, karena kami nggak pernah ketemu lagi.
Tapi aku lega sekali bisa melakukan itu. Aku lega dan bangga sanggup menempuh ribuan kilo demi menyampaikan isi hati yang pastinya nggak akan sanggup kukatakan sambil menatap matanya karena buatku itu butuh lebih banyak keberanian dan kekuatan.
Tahun-tahun berlalu, masihkah aku rindu padanya? Ya, kadang-kadang.
Dan bukankah jika kita menyimpan seseorang dalam hati kita, akan ada satu saat dalam hidup kita di mana kita sangat merindukan orang itu.
Maka biarlah, nikmati saja.
Semoga kelak kalau aku kangen seseorang, aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk mengatakannya, tanpa perlu berteriak, tanpa perlu nekat mendaki gunung. Aku hanya harus jujur dan tulus, mengatakan apa yang kurasa sambil menatap matanya dan berbisik pelan… “Aku kangen kamu.”
Thursday, July 30, 2009
Langit Musim Kemarau
Ada bulan di langit pagi musim kemarau
Aku suka itu
Saat dewi malam bertemu penguasa siang
Saat aku bisa melukis senyummu dalam serakan awannya
Ada bulan di langit pagi musim kemarau
Saat kuputuskan untuk menunggumu di bawah teriknya.
Aku suka itu
Saat dewi malam bertemu penguasa siang
Saat aku bisa melukis senyummu dalam serakan awannya
Ada bulan di langit pagi musim kemarau
Saat kuputuskan untuk menunggumu di bawah teriknya.
Tuesday, July 21, 2009
Because Of Allah

Mereka bilang kau bersahabat dengan matahari
Di dekatmu aku akan kering terpanggang
Mereka bilang kau bersekutu dengan hujan
Bersamamu mendung dan dinginlah yang akan kuakrabi
Kau bilang, seharusnya aku merindukan purnama
Yang tak pernah menyilaukan dan lengkungnya selalu sempurna
Kau bilang, sebijaknya aku memilih semilir
Karena dia akan membungkusku dengan lembut dan sejuknya
Aku bilang
Aku memilihmu karena kesederhanaanmu
Merindukanmu karena ketidaksempurnaanmu
Di dekatmu karena itu yang kumau
Bersamamu karena mencintaimu
Bismillah, I love you because of Allah
Subscribe to:
Posts (Atom)
