Alhamdulillah, berkali-kali aku lantunkan dalam hati saat pesawat yang kutumpangi mendarat. Dari jendela aku lihat pesawat bergerak menuju hangar. Narita… ya, aku sudah tiba di Jepang!
Subhanallah, itulah yang kemudian terlafaz dari bibirku. Narita, Tokyo, setelah 9 tahun berlalu, aku kembali lagi ke negeri dingin ini. Nggak berlebihan kalau aku bilang negeri ini dingin, karena memang begitulah faktanya. Saat mendarat jam 7 pagi tadi, pilot bilang cuaca sekitar -2 derajat. Wow bayangkan, dari Jakarta yang 29-30 derajat celcius terjun bebas ke suhu minus! Ya Allah, semoga aku nggak masuk angin selama di sini. Sungguh nggak enak sakit di negeri orang, sendirian, nggak ada teman apalagi ibu yang biasanya langsung sigap mengurusku.
Keluar dari bandara jam 9 pagi, suhu mulai menghangat. Dari penanda suhu yang terpasang di depan lobby tertera suhunya 4.9 derajat, jauh lebih hangat dari -2, tapi tentunya masih teramat sangat dingin buat manusia tropis seperti aku.
Seakan melengkapi penyambutanku di negeri dingin ini, hujan turun, hujan yang indah. Aku sangat suka hujan di Jepang, yang kuingat butirannya lembut, ringan tertiup angin. Kali inipun sama, meski dingin, aku nikmati hujan yang menyambutku hari ini dan angin musim dingin menampar-nampar pipiku, pipiku jadi merah, hidungku juga merah… ah, nihon, yappa samuidane.
Sesuai janjiku (pada diri sendiri), aku teriakkan nama kamu di bawah rintik hujan, lho. Kedengaran, nggak?
Bus yang mengantarku menuju hotelpun tiba. Aku duduk paling depan, sengaja supaya bisa melihat pemandangan, begitu pikirku. Ternyata nggak banyak yang berubah. Sepanjang jalan, aku lihat pohon-pohon tanpa daun, gedung-gedung tinggi, kotak-kotak, kelihatan kokoh, kaku dan dingin. Dan aku harus bertarung melawan dingin ini selama 6 hari ke depan.
Aku terus meyakinkan diri telah tiba di Tokyo. Sejujurnya aku masih susah percaya, ini seperti mimpi dan nggak pernah terbayang olehku bisa ke sini lagi. 10 tahun lalu, aku dan 4 orang teman berjanji akan reuni di Tokyo tepat di tahun 2010 ini. Dan Subhanallah, aku memang ke sini lagi, tapi sendiri tanpa mereka, dingin pula!
Euhm, 10 tahun lalu… pikiranku lalu berlari ke masa itu, dan “hehehehe” aku ingat sesuatu.
Kalau kamu pikir, meneriakkan namamu di bandara adalah perbuatan konyol dan norak, aku pernah melakukan yang lebih konyol dari itu. Mendaki gunung Fuji! Yap, aku nekat mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 3700 m itu demi satu tujuan, “meneriakkan nama seseorang dari puncaknya.” Aku pernah dengar, jika kita meneriakkan nama seseorang dari puncak Fuji, maka angin dewa akan membawa teriakan hati kita ke orang itu, so I did it.
Hari-hari aku lewati dengan sangat sibuk, sangat lelah. Suhu yang dingin, orang-orang yang dingin. Manusia Tokyo bergerak sangat cepat, bergegas seperti tergesa-gesa. Kenapa, ya? Warna pakaian mereka senada, gelap. Hanya ada satu, dua orang yang terlihat berani tampil beda memakai warna terang. Waktu kuliah, aku pernah belajar tentang ini, tapi tetap saja hatiku bertanya-tanya. Sambil mencari jawabnya, kakiku mulai bergerak seperti mereka, cepat, bergegas, nggak lagi sempat tengok kanan-kiri. Selama di sana, berkali-kali aku diguyur hujan, dingin tentunya tapi aku suka hujan, kamu tahu itu, kan?
6 hari yang sangat melelahkanpun berlalu, waktunya kembali ke Jakarta!
Hari itu cuaca sangat ramah, suhu 20 derajat, hangat, pertama kalinya sejak tiba di sini aku merasakan silau dan hangatnya sinar matahari.
Bus kembali mengantarku ke Narita. Kali ini aku nikmati tiap sudut Shinjuku yang kulalui sambil berucap Alhamdulillah. Kupandangi pohon sakura yang gundul, berjajar sepanjang jalan. 1 bulan lagi, jalan ini pasti akan sangat indah dengan sakura yang bermekaran.
Aku ingin kembali lagi ke sini, kali nanti, aku ingin denganmu. Ada banyak yang ingin kuperlihatkan padamu, ingin kubagi denganmu. Dalam hati kulantunkan itu, doa untuk kita, semoga Allah mengabulkannya.
Matahari sore makin hangat mengusap pipiku. Ah, aku makin kangen Jakarta, kangen kamu. Oleh-oleh buatmu kujaga baik-baik, seperti pintamu.
- Catatan perjalanan akhir musim dingin, 28 februari~5 Maret 2010 -
