Kenapa berhijab? Kenapa tidak!
Juni 2011 siang, di sebuah toilet wanita
A : “ Eh, emangnya orang berjilbab boleh rangkulan sama cowok, ya? Dan aku tahu itu bukan suaminya, lho.”
B : “Wah, coba tanya Tika yang lebih ngerti, deh. Dia kan pakai jilbab.”
Saya : “Setahuku larangan perempuan dan lelaki yang bukan muhrim untuk bersentuhan berlaku untuk semuanya. Bukan cuma untuk yang berjilbab, Mbak.”
A : “Tapi kalau dia pakai jilbab harusnya lebih bisa jaga sikap, dong.”
B: “Iya, daripada malu-maluin gitu, mending gak usah pakai jilbab dulu aja…”
Saya : “ Jilbab kan proses, Mbak. Bukan penentu kemuliaan akhlak seseorang…”
Pernah dengar atau bahkan kamu sendirikah yang mengeluarkan pertanyaan dan pernyataan tersebut? Penggalan percakapan di atas adalah pengalaman pribadi saya berkaitan hijab.
Jujur, sayapun pernah berpikir seperti dua orang rekan kerja saya itu. Ada masa di mana saya memandang jilbab adalah lambang kesucian dan kemuliaan seorang muslimah. Seorang wanita berjilbab haruslah, pastilah seorang yang sabar, pandai mengaji, rajin sholat, getol beribadah, lemah lembut, terjaga tingkah dan tuturnya, tidak ketawa keras-keras, dan sederet kesantunan akhlak lainnya. Deretan standar itulah yang membuat saya merasa sangat tidak siap, sangat tidak pantas berjilbab. Kenapa? Karena saya sangat jauh dari kualitas-kualitas itu.
“Saya tahu berjilbab adalah kewajiban, tapi saya harus mulai dengan membenahi hati saya dulu. Saya tidak mau nanti buka pakai jilbab karena tidak siap dengan omongan orang, atau justru mencoreng citra jilbab karena tingkah laku saya. Benerin dulu tingkah laku, baru pakai jilbab.” Begitu pikir saya dulu, dan saya yakin banyak muslimah lain yang juga berpikir seperti itu.
Ada beragam penyebab seorang muslimah belum berhijab. Mungkin karena tidak tahu kewajiban berhijab, tuntutan pekerjaan, takut aktivitasnya terbatasi atau juga yang ragu karena merasa belum layak berhijab, seperti yang saya alami. Tanpa mengecilkan alasan yang lain, tulisan ini untuk berbagi pengalaman dan pemikiran kepada para muslimah yang tengah meragu seperti saya dulu.
Pada saya, keinginan untuk berhijab pertama kali muncul saat kuliah, namun niat itu timbul tenggelam. Saat itu saya punya beberapa sahabat yang berjilbab, kadang kami beli kerudung bersama. Tapi sayangnya, kerudung-kerudung itu berhenti di tumpukan paling bawah lemari saya, tidak pernah tersentuh apalagi dipakai.
Setelah lulus kuliah dan bekerja, keinginan berhijab menciut, tertinggal jauh di belakang, di masa muda yang penuh idealisme (taela). Saya suka tampil modis. Punya uang sendiri hasil bekerja membuat saya bisa belanja baju-baju lucu yang saya mau, baju-baju yang dipajang di etalase yang katanya sedang ‘tren’. Semua itu mengikis keinginan berhijab. Astagfirullah…
Lalu kapankah hidayah kesadaran untuk berhijab kembali datang?
Tidak ada pengalaman spiritual atau peristiwa dramatis yang menginspirasi saya. Yang saya ingat, kira-kira 2 hari sebelum Ramadhan, muncul keinginan untuk berjilbab. Allah menghembuskan azzam itu ke hati saya.
Meski keinginan begitu menggebu tapi tetap terselip kecemasan yang berlarian hati ini… “Sudah pantaskah saya berjilbab?”, “Siapkah saya berjilbab?” Lalu saya kirim sms kepada dua orang sahabat, menanyakan rintangan yang mereka hadapi saat memutuskan berhijab. Saya lupa rintangan apa yang mereka ceritakan, yang saya ingat adalah kalimat penguatan dari keduanya. “Kalau niatnya baik dan ikhlas, pasti dimudahkan. Insya Allah. Bismillah aja.”
Hati saya yang semula beriak, jadi tenang. Subhanallah. Selepas tarawih, saya ungkapkan niat itu pada ibu dan bapak. Alhamdulillah, keduanya tidak keberatan walau tidak juga mendukung dengan gegap gempita.
1 Ramadhan 2006, hari pertama saya berhijab. Hijab yang sangat sederhana, sangat seadanya. Saya berangkat kerja memakai berego milik ibu. Saat itu saya tidak punya sehelai beregopun dan sama sekali belum bisa memakai kerudung.
Pekerjaan saya sebagai seorang frontliner di rumah sakit Jepang saat itu membuat saya tidak bisa berhijab saat bekerja. Dalih mereka, karena itu rumah sakit internasional, maka pegawai dilarang berpenampilan tradisional. Jilbab = tradisonal? Konyol, kan! Setengah ikhlas, setengah terpaksa karena tidak berdaya, saya jalani itu semua sambil berdoa semoga mendapat pekerjaan baru yang mempermudah niat ‘berhijrah’. Alhamdulillah, Allah menjawab doa saya dengan sangat cepat. Saya dipromosikan sebagai assistant manager di perusahaan cabang. Saya bulatkan tekad untuk tetap berhijab di jam kerja. Saya pasrah jika memang perusahaan atau atasan saya yang orang Jepang keberatan dan memecat saya. “Pokoknya saya tidak akan mencopot hijab ini!”
Allah MahaBaik. Ternyata atasan sama sekali tidak keberatan dengan hijab saya. Dan pada dasarnya hijab ini sama sekali tidak mengurangi performa kerja saya. Saya termotivasi untuk bekerja lebih baik sebagai tanda terima kasih pada atasan saya yang telah mengizinkan saya menjadi satu-satunya pegawai yang boleh berjilbab. Ya, satu-satunya. Karena dua rekan saya yang lain tetap harus melepas jilbab mereka selagi bekerja.
Setelah berhijab tidak ada rintangan dalam dunia pekerjaan yang saya alami, bahkan Allah kembali menjawab doa saya. Saya diterima bekerja di perusahaan penerbitan yang telah lama saya idamkan! Pekerjaan yang selama bertahun-tahun saya kejar namun tidak juga berhasil, tapi tiba-tiba perusahaan itu memanggil dan merekrut saya sebagai editor. Prosesnya sungguh lancar dan cepat. Allah memudahkan, alhamdulillah. Di kantor baru, saya bisa berhijab dengan leluasa tanpa perlu merasa tidak enak hati karena dianakemaskan. Alhamdulillah, alhamdulillah ^_^
Tidak banyak yang berubah setelah saya berhijab. Saya tetap beraktivitas seperti biasa, bekerja dan bergaul dengan teman-teman seperti biasa, tentunya selama masih dalam koridor yang dibolehkan agama.
Saya tidak dan takkan pernah menghitung rambut rontok, atau baju-baju modis kesayangan yang tak terpakai lagi, atau sikap melecehkan seorang petugas bandara Narita pada saya karena berhijab sebagai sebuah rintangan atau pengorbanan. Subhanallah, jika dibandingkan kisah-kisah muslimah lainnya yang bahkan harus bertaruh nyawa demi mempertahankan jilbabnya, apa yang saya alami bukanlah apa-apa.
Lalu, sudahkah saya menjadi muslimah berhijab dengan sederet tuntutan kualitas dan standar yang jadi ekspektasi masyarakat awam? Belum! Masih sangat jauh bahkan. Dan saya tempatkan itu di kotak ‘pekerjaan rumah’ supaya terus istiqamah dan sabar berbenah diri.
Seorang teman pernah bertanya, “Kenapa kamu pakai kerudung?”
“Why not.” jawab saya. Sebenarnya daripada mengurut alasan kenapa tidak berhijab, saya lebih mantap menyebutkan hal-hal yang menguatkan saya untuk berhijab. Dan inilah yang selalu saya bisikan lirih ke dalam hati, untuk penegar, untuk penyabar.
Berhijab adalah proses, bukan hasil, bukan pemutlak kemuliaan akhlak seseorang. Tapi dia sebuah kewajiban, seperti sholat lima waktu, zakat, puasa Ramadhan dan ibadah wajib lainnya. Ada ayat dalam AlQur’an yang menegaskan itu. Hijab adalah proses ihtiar kita untuk menjadi hamba yang lebih baik menuju ketaqwaan padaNYA. Proses itu bertahap, sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung sempurna. Namun tetap harus dilakukan dengan sabar dan istiqamah sebagai bukti taat dan syukur kita pada Allah.
Benar, ada saat di mana konsekuensinya terasa berat, tapi saya diyakinkan bahwa jika kita melakukan sesuatu yang baik dan ikhlas, maka Allah akan membukakan pintu kemudahan. Saya sudah buktikan itu. Dan saya yakin kamupun telah membuktikan sendiri kemudahan yang Allah berikan, berkali-kali bahkan. Iya, kan?
Jadi, berhijab? Why not!
Tuesday, November 15, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
