Wednesday, November 7, 2012

Tonight with Lee Seunggi :)

Biasanya ngedit komik, tiba-tiba dapat tugas meliput artis?! Lucky me! Yang jadi target pengalaman pertama saya adalah Lee Seunggi  Banyak foto yang blur karena tangan saya gemetaran, akibat salting dan deg-degan berhadapan langsung dengan Seunggi, tentunya plus ke-gaptek-an pegang kamera :p Berikut hasil jepretan super amatir yang saya suka :)
Seunggi bilang di drama terbarunya yang tayang bulan Mei tahun 2013, dia akan berperan sebagai manusia setengah binatang. Jadi buaya darat sekalipun, aku tetap padamu, Seunggiya! ^_^

Tuesday, November 15, 2011

Why hijabing? Why not ^_^

Kenapa berhijab? Kenapa tidak!

Juni 2011 siang, di sebuah toilet wanita

A : “ Eh, emangnya orang berjilbab boleh rangkulan sama cowok, ya? Dan aku tahu itu bukan suaminya, lho.”
B : “Wah, coba tanya Tika yang lebih ngerti, deh. Dia kan pakai jilbab.”
Saya : “Setahuku larangan perempuan dan lelaki yang bukan muhrim untuk bersentuhan berlaku untuk semuanya. Bukan cuma untuk yang berjilbab, Mbak.”
A : “Tapi kalau dia pakai jilbab harusnya lebih bisa jaga sikap, dong.”
B: “Iya, daripada malu-maluin gitu, mending gak usah pakai jilbab dulu aja…”
Saya : “ Jilbab kan proses, Mbak. Bukan penentu kemuliaan akhlak seseorang…”

Pernah dengar atau bahkan kamu sendirikah yang mengeluarkan pertanyaan dan pernyataan tersebut? Penggalan percakapan di atas adalah pengalaman pribadi saya berkaitan hijab.

Jujur, sayapun pernah berpikir seperti dua orang rekan kerja saya itu. Ada masa di mana saya memandang jilbab adalah lambang kesucian dan kemuliaan seorang muslimah. Seorang wanita berjilbab haruslah, pastilah seorang yang sabar, pandai mengaji, rajin sholat, getol beribadah, lemah lembut, terjaga tingkah dan tuturnya, tidak ketawa keras-keras, dan sederet kesantunan akhlak lainnya. Deretan standar itulah yang membuat saya merasa sangat tidak siap, sangat tidak pantas berjilbab. Kenapa? Karena saya sangat jauh dari kualitas-kualitas itu.

“Saya tahu berjilbab adalah kewajiban, tapi saya harus mulai dengan membenahi hati saya dulu. Saya tidak mau nanti buka pakai jilbab karena tidak siap dengan omongan orang, atau justru mencoreng citra jilbab karena tingkah laku saya. Benerin dulu tingkah laku, baru pakai jilbab.” Begitu pikir saya dulu, dan saya yakin banyak muslimah lain yang juga berpikir seperti itu.

Ada beragam penyebab seorang muslimah belum berhijab. Mungkin karena tidak tahu kewajiban berhijab, tuntutan pekerjaan, takut aktivitasnya terbatasi atau juga yang ragu karena merasa belum layak berhijab, seperti yang saya alami. Tanpa mengecilkan alasan yang lain, tulisan ini untuk berbagi pengalaman dan pemikiran kepada para muslimah yang tengah meragu seperti saya dulu.

Pada saya, keinginan untuk berhijab pertama kali muncul saat kuliah, namun niat itu timbul tenggelam. Saat itu saya punya beberapa sahabat yang berjilbab, kadang kami beli kerudung bersama. Tapi sayangnya, kerudung-kerudung itu berhenti di tumpukan paling bawah lemari saya, tidak pernah tersentuh apalagi dipakai.
Setelah lulus kuliah dan bekerja, keinginan berhijab menciut, tertinggal jauh di belakang, di masa muda yang penuh idealisme (taela). Saya suka tampil modis. Punya uang sendiri hasil bekerja membuat saya bisa belanja baju-baju lucu yang saya mau, baju-baju yang dipajang di etalase yang katanya sedang ‘tren’. Semua itu mengikis keinginan berhijab. Astagfirullah…

Lalu kapankah hidayah kesadaran untuk berhijab kembali datang?
Tidak ada pengalaman spiritual atau peristiwa dramatis yang menginspirasi saya. Yang saya ingat, kira-kira 2 hari sebelum Ramadhan, muncul keinginan untuk berjilbab. Allah menghembuskan azzam itu ke hati saya.

Meski keinginan begitu menggebu tapi tetap terselip kecemasan yang berlarian hati ini… “Sudah pantaskah saya berjilbab?”, “Siapkah saya berjilbab?” Lalu saya kirim sms kepada dua orang sahabat, menanyakan rintangan yang mereka hadapi saat memutuskan berhijab. Saya lupa rintangan apa yang mereka ceritakan, yang saya ingat adalah kalimat penguatan dari keduanya. “Kalau niatnya baik dan ikhlas, pasti dimudahkan. Insya Allah. Bismillah aja.”
Hati saya yang semula beriak, jadi tenang. Subhanallah. Selepas tarawih, saya ungkapkan niat itu pada ibu dan bapak. Alhamdulillah, keduanya tidak keberatan walau tidak juga mendukung dengan gegap gempita.

1 Ramadhan 2006, hari pertama saya berhijab. Hijab yang sangat sederhana, sangat seadanya. Saya berangkat kerja memakai berego milik ibu. Saat itu saya tidak punya sehelai beregopun dan sama sekali belum bisa memakai kerudung.

Pekerjaan saya sebagai seorang frontliner di rumah sakit Jepang saat itu membuat saya tidak bisa berhijab saat bekerja. Dalih mereka, karena itu rumah sakit internasional, maka pegawai dilarang berpenampilan tradisional. Jilbab = tradisonal? Konyol, kan! Setengah ikhlas, setengah terpaksa karena tidak berdaya, saya jalani itu semua sambil berdoa semoga mendapat pekerjaan baru yang mempermudah niat ‘berhijrah’. Alhamdulillah, Allah menjawab doa saya dengan sangat cepat. Saya dipromosikan sebagai assistant manager di perusahaan cabang. Saya bulatkan tekad untuk tetap berhijab di jam kerja. Saya pasrah jika memang perusahaan atau atasan saya yang orang Jepang keberatan dan memecat saya. “Pokoknya saya tidak akan mencopot hijab ini!”

Allah MahaBaik. Ternyata atasan sama sekali tidak keberatan dengan hijab saya. Dan pada dasarnya hijab ini sama sekali tidak mengurangi performa kerja saya. Saya termotivasi untuk bekerja lebih baik sebagai tanda terima kasih pada atasan saya yang telah mengizinkan saya menjadi satu-satunya pegawai yang boleh berjilbab. Ya, satu-satunya. Karena dua rekan saya yang lain tetap harus melepas jilbab mereka selagi bekerja.

Setelah berhijab tidak ada rintangan dalam dunia pekerjaan yang saya alami, bahkan Allah kembali menjawab doa saya. Saya diterima bekerja di perusahaan penerbitan yang telah lama saya idamkan! Pekerjaan yang selama bertahun-tahun saya kejar namun tidak juga berhasil, tapi tiba-tiba perusahaan itu memanggil dan merekrut saya sebagai editor. Prosesnya sungguh lancar dan cepat. Allah memudahkan, alhamdulillah. Di kantor baru, saya bisa berhijab dengan leluasa tanpa perlu merasa tidak enak hati karena dianakemaskan. Alhamdulillah, alhamdulillah ^_^

Tidak banyak yang berubah setelah saya berhijab. Saya tetap beraktivitas seperti biasa, bekerja dan bergaul dengan teman-teman seperti biasa, tentunya selama masih dalam koridor yang dibolehkan agama.

Saya tidak dan takkan pernah menghitung rambut rontok, atau baju-baju modis kesayangan yang tak terpakai lagi, atau sikap melecehkan seorang petugas bandara Narita pada saya karena berhijab sebagai sebuah rintangan atau pengorbanan. Subhanallah, jika dibandingkan kisah-kisah muslimah lainnya yang bahkan harus bertaruh nyawa demi mempertahankan jilbabnya, apa yang saya alami bukanlah apa-apa.

Lalu, sudahkah saya menjadi muslimah berhijab dengan sederet tuntutan kualitas dan standar yang jadi ekspektasi masyarakat awam? Belum! Masih sangat jauh bahkan. Dan saya tempatkan itu di kotak ‘pekerjaan rumah’ supaya terus istiqamah dan sabar berbenah diri.

Seorang teman pernah bertanya, “Kenapa kamu pakai kerudung?”
“Why not.” jawab saya. Sebenarnya daripada mengurut alasan kenapa tidak berhijab, saya lebih mantap menyebutkan hal-hal yang menguatkan saya untuk berhijab. Dan inilah yang selalu saya bisikan lirih ke dalam hati, untuk penegar, untuk penyabar.

Berhijab adalah proses, bukan hasil, bukan pemutlak kemuliaan akhlak seseorang. Tapi dia sebuah kewajiban, seperti sholat lima waktu, zakat, puasa Ramadhan dan ibadah wajib lainnya. Ada ayat dalam AlQur’an yang menegaskan itu. Hijab adalah proses ihtiar kita untuk menjadi hamba yang lebih baik menuju ketaqwaan padaNYA. Proses itu bertahap, sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung sempurna. Namun tetap harus dilakukan dengan sabar dan istiqamah sebagai bukti taat dan syukur kita pada Allah.

Benar, ada saat di mana konsekuensinya terasa berat, tapi saya diyakinkan bahwa jika kita melakukan sesuatu yang baik dan ikhlas, maka Allah akan membukakan pintu kemudahan. Saya sudah buktikan itu. Dan saya yakin kamupun telah membuktikan sendiri kemudahan yang Allah berikan, berkali-kali bahkan. Iya, kan?
Jadi, berhijab? Why not!

Thursday, May 26, 2011

Kumpulan puisi kesukaan - 1

*
Wajahmu Di bawah Sinar Matahari

Terik matahari penghujung Desember, silau, menyengat.
Aku tak suka panas, panas selalu membuat kepalaku pusing.
Lalu… ada yang menghampiri.
Mengherankan, dalam sekejap pandanganku jadi teduh.
Bukan karena awan, bukan karena angin.
Yang kulihat sangat biasa, sangat sederhana tapi indah.
Sungguh indah…
Wajahmu di bawah sinar matahari.

Jl. Panjang, Desember 2008

Puisi ini, puisi ketiga yang saya tulis setelah belasan tahun berlalu dari puisi kedua.
Puisi pertama, raib entah kemana tanpa sempat saya dokumentasikan. Puisi kedua, saya buang karena kata teman saya isinya sangat ‘menggelikan’.
Puisi ketiga ini adalah yang sejujur-jujurnya yang saya rasakan tentang wajah seseorang. Yang memang sangat biasa, sederhana… di waktu bersamaan juga sangat indah. Kok, bisa? Mungkin karena mata saya menatapnya dengan cinta? (hallah!)



*
Pada Sebuah Bangku

Pernah aku duduk berdua denganmu di bangku itu,
Hanya berdua saja.
Kau diam
Aku diam.
Tak terurai kata yang terpendam di dasar hati.
Diam
Hanya diam.
Merangkai detik demi detik,
Menit demi menit.
Daun-daun jatuh,
Angin berhembus perlahan.
Kita tetap saja diam.
Kini,
Beribu jarak berlalu.
Aku kembali duduk di bangku itu
Sendiri.
Dalam diam
Dalam sunyi
Sendiri.

July 28th 2008, 17.04
(For my very best friend ; gambatte ne, anata nara zettai dekiru to omou yo!)


Ini jadi puisi favorit saya karena menurut sahabat saya, puisi ini terinspirasi dari cerita saya padanya tentang kenangan di sebuah bangku, di tepi danau UI belasan tahun yang lalu.
Itsumo ouenshite kurete arigatou… ^_^


*
Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono, 1994

Dua hal yang membuat saya sangat suka puisi ini, karena tentang hujan dan dituturkan dengan bahasa yang sangat sederhana.



*
Angin menyeret mendung, menggoyang beringin di seberang jalan.
Daun keringnya gugur berhamburan di Otista Raya.
Lagi-lagi aku ingat kamu.
Waktu memang cepat berlalu.
Jakarta memang banyak berubah.
Tapi aku tidak.
Jatuh cinta cuma sekali, dan itu pernah terjadi.

Aris Nugraha, Catatan Gunung Sahari, 1993

Saya kurang yakin judul puisi ini. Jatuh cinta Cuma sekali atau Catatan Gunung Sahari, ya? Bagian terfavorit dari puisi ini adalah 3 kalimat di bagian akhir. Walaupun pada kenyataan saya juga berubah, tuh.

Wednesday, April 6, 2011

Kokoro no tomo

Kokoro no tomo, pernah dengar kata-kata itu?
Yap, sebagian dari kita memang mengenalnya sebagai lagu Jepang yang dinyanyikan Mayumi Itsuwa.Tapi saya bukan mau membahas lagu itu, lho. Kokoro no tomo itu artinya kira-kira soul mate, pasangan jiwa. Kenapa tiba-tiba nulis beginian? Karena tiba-tiba keingetan sesuatu.

Beberapa waktu lalu, saya pernah nerjemahin komik Jepang. Sang tokoh di komik bilang begini :
“Konon, dulunya dalam satu tubuh manusia terdapat dua jiwa. Karena itulah manusia jadi sangat kuat dan bisa melakukan apapun. Lalu manusia jadi sombong dan menantang Tuhan. Tuhanpun murka dan memisahkan dua jiwa itu ke dua tubuh berbeda. Saat manusia sedang mencari pasangan jiwanya yang hilang itulah, saat di mana manusia sedang jatuh cinta.”

Hehehehe!! Kedengeran konyolkah? Yah, namanya juga komik ABG, kalo nggak konyol, nggak seru. Tapi mungkin itulah caranya si komikus menggambarkan arti pasangan jiwa, jodoh atau apapun itulah sebutannya.

Orang Jepang sendiri memang mengenal istilah “ akai ito ni musubareta hito” (orang yang terhubungkan benang merah).
Konon, di jari kelingking tiap orang sebenarnya ada benang merah tak kasatmata yang menghubungkan orang tersebut dengan pasangan jiwanya masing-masing. Jadi, sejauh apapun jarak memisahkan, selama apapun waktu yang dibutuhkan, pada akhirnya kita pasti akan ketemu dengan seseorang -yang memang sudah dipasangkan untuk kita- itu.


So, what do you think?



四月。。。

誰かに切ない思いをしてるものは素敵な出会いをしますように

今まで片思いしてるものは愛してもらいますように

傷ついたものはもっと素敵な代わりを見つけますように

Tuesday, March 29, 2011

La Tahzan - setelah hujan


Sore tadi hujan turun di Margonda
meski pelangi tak datang sesuai janjinya, kau tetap tersenyum

Kau tak ingin lagi menangis
dan hujan telah begitu baik menghanyutkan air matamu dalam derasnya

Kau berdiri, diam…

Rasakanlah, harapan datang dihembus bau tanah setelah hujan

Lantangkanlah pada langit:

“Selamat malam bulan, aku siap jatuh cinta!”


Jakarta, 29 Maret 2009

Thursday, March 24, 2011

Always Alhamdulillah


Menghadiri acara pernikahan seorang teman beberapa waktu lalu membuat saya merenungkan lagi pencapaian saya selama ini. Kok, bisa gitu? Memang ada kejadian fenomenal apa? Hahahaha! Nggak segitunya, kali! Sama sekali bukan peristiwa dahsyat, kok.

Di acara itu saya ketemu lagi dengan mantan bos saat bekerja di sebuah klinik Jepang. Bos saya ini seorang warga negara Jepang, lelaki 60 tahunan dengan segala standar dan stereotype ke-Jepangannya. Tapi di mata saya, beliau bukan cuma jelmaan buku-buku teori yang saya pelajari sewaktu kuliah dulu. Buat saya, beliau adalah guru yang mengajarkan semangat “samurai”. Meski sakit kalau masih bisa berdiri pantang absen kerja. Kedermawanannya juga sungguh luar biasa. Beliau nggak segan-segan mendonasikan nggak sedikit uangnya untuk sosial ataupun mentraktir kami, anak buahnya. Nggak terhitung juga kebaikannya memberi diskon bahkan menggratiskan pasien-pasien yang berobat padanya. Karena memang faktanya nggak semua ekspatriat (Jepang) yang ada di Jakarta ini bergelimang fasilitas dan kenyamanan, lho. Saya sudah membuktikan itu, berkali-kali. Sifat dermawan dan kepandaiannya mengobati pasien membuatnya cukup dikenal di komunitas orang Jepang yang ada di Jakarta, bahkan di pulau Jawa.

Buat saya pribadi, kebaikannya lebih bermakna saat beliau mengizinkan saya jadi satu-satunya pegawai yang boleh berhijab selagi bekerja. Sungguh saya sangat berterima kasih atas pengertiannya itu.

Selama bekerja padanya, banyak pelajaran dan nasihat yang saya dapat. Seperti halnya pertemuan tempo lalu. Setelah cukup lama berbincang, tepat beberapa saat sebelum pulang, beliau bernasihat begini, “Bagi wanita Jepang ada 3 pencapaian yang harus terpenuhi. Satu, menikah dan punya anak. Kedua, karir yang sukses dan ketiga hati yang bahagia. Minimal harus dapat yang nomor tiga ya, Tika-san.” Lalu beliaupun berlalu. Saat mendengar itu, saya meresponnya dengan senyum dan anggukan takzim. Tentu saja, terlepas dari setuju atau nggak dengan nasihatnya itu, saya menghormatinya dan melihat itu sebagai ungkapan kebaikan. Mungkin untuk mengingatkan, mungkin untuk memotivasi.

Kemudian pulanglah saya dengan perut kenyang, rasa senang karena habis bertemu teman-teman dan nggak ketinggalan hati yang mulai menganalisa, meresapi nasihat Sang Dokter.
Lalu pencerahan, penyadaran apa yang saya dapat dari nasihatnya itu? Beginilah kira-kira…

Pertama, menikah dan punya anak. Sungguh nggak mengada-ada kalau saya bilang sejak dulu saya selalu ingin menikah muda dan punya 3 orang anak, 2 perempuan, 1 lelaki (hehehehe! Cukup detail, kan?). Dan tahun ini untuk kedua kalinya “menikah" ada di list resolusi tahun baru saya. Dengan kesadaran dan keinginan penuh, saya berusaha mencapai ini. Yak, cukup! No further comment!!

Kedua, karir yang sukses. Sebenarnya sampai sekarang saya belum menemukan definisi sukses –yang cocok, pas, mengena di hati-. Walaupun tentunya maksud Pak Dokter itu, sukses ditandai dengan gaji besar dan atau jabatan tinggi di sebuah perusahaan besar.
Mungkin beliau benar. Tapi selagi saya mencari-cari definisi sukses itu, inilah yang jadi prinsip saya : selama saya merasa senang, menikmati, bertumbuh, bertambah pintar, bisa belajar dan dibayar atas pekerjaan yang saya lakukan, maka saya yakin sudah berada di arah yang benar menuju kesuksesan.

Ketiga, hati yang bahagia. Bahagia… Bagi saya, kebahagiaan bukanlah sebuah titik atau garis yang bisa dituju letaknya. Bahagia ada di momen dalam keseharian hidup saya, hidup kita. Bahkan di hari yang kita anggap sangat menyebalkan sekalipun, tentunya kita nggak akan bete seharian, kan? Pasti ada momen sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita nikmati, kita syukuri, yang membuat kita merasa senang. Misalnya senyum sumringah karena bertemu dan bertukar sapa dengan pujaan hati di mushola saat Dhuha, atau hati yang tetap damai meski uang gaji cuma mampir sebentar di rekening kita. Bahagia ada dalam diri kita, dalam keseharian kita, dimulai dari bentuk yang sangat sederhana.

Menelaah nasihat Sang Dokter, mengingatkan kembali apa-apa yang sudah saya lalui, yang sudah saya dapatkan, yang masih saya kejar, yang saya lepaskan, yang nggak mungkin tergenggam.
Lalu saya bisikkan berulang-ulang, sebagai "gambareru omajinai" sebuah kalimat yang saya kutip dari sebuah buku -maaf, saya lupa judulnya-: “Saya tidak bisa mengubah masa lalu, seperti juga saya tidak tahu bagaimana masa depan. Maka saya nikmati, saya syukuri, saya terima yang Allah berikan untuk saya saat ini.”

Jadi, always Alhamdulillah *_*

Jakarta, 24 Maret 2011 ditulis sewaktu hujan

Monday, March 21, 2011

Shitsuke Shimashou - belajar disiplin ala Jepang


Berikut adalah artikel yang saya buat untuk sebuah majalah komik. Laporan ringan perjalanan di negeri Sakura.

"Shitsuke, disiplin ala Jepang"


Hai Cherry-Girls, setelah di volume-volume lalu Cherry mengajak kamu jalan-jalan ke daerah wisata di Jepang, kali ini Cherry mengajak kamu menengok rutinitas keseharian orang Jepang khususnya di Tokyo. Ternyata ada yang seru dan uniknya juga, lho. Yuk, kita simak bareng-bareng!

Cherry-Girls pasti pernah dengar tentang sifat orang Jepang yang sangat disiplin, kan? Bahkan katanya disiplin itu sudah jadi budaya, ciri khas bangsa Jepang. Sebenarnya ada banyak penelitian tentang asal muasal “Shitsuke” atau kedisiplinan bangsa Jepang ini. Dari penelitian-penelitian itu lahirlah teori yang bilang sikap disiplin adalah warisan nilai Bushido (militer) yang pernah ditanamkan pada masyarakat Jepang tempo dulu. Ada juga teori yang bilang kedisiplinan itu lahir karena pengaruh iklim Jepang yang menuntut rakyatnya harus “patuh” pada perubahan musim agar bisa bertahan hidup. Yah, pokoknya apapun itu, yang bisa kita lihat, bangsa Jepang sangat terkenal dengan sikap disiplin mereka misalnya soal ketepatan waktu, antre naik bus atau kereta dan juga menyeberang jalan. Nah, untuk hal yang terakhir ini Cherry punya liputannya khusus buat Cherry-Girls, lho.

Di Jepang, khususnya di Tokyo jumlah pejalan kaki jauh lebih banyak daripada orang yang naik kendaraan, apalagi kendaraan pribadi. Karena itulah sebagai pemakai jalan mayoritas, pejalan kaki sangat diutamakan.
Jadi rambu-rambu lalu lintas yang ada, tidak hanya ditujukan untuk kendaraan tapi juga untuk pejalan kaki. Di jalan raya, kita akan banyak menemukan lampu lalu lintas khusus untuk mengatur pejalan kaki. Saat lampunya merah, berarti pejalan kaki harus menunggu di tepi jalan hingga lampu hijau, barulah giliran mereka menyeberang. Saat lampunya hijau, ada suara penanda, seperti suara burung, “kukuk, kukuk”. Suara itu akan terus terdengar sampai lampunya berubah jadi merah lagi.

Sepanjang pengamatan Cherry, para pejalan kaki patuh menunggu lampu hijau, jadi sangat jarang tuh adegan orang menyeberang saat lampu merah meskipun kondisi jalan sepi kendaraan. Wah, kebayang kan bedanya dengan di sini?

Waktu di sana, Cherry juga sabar menunggu di tepi jalan dengan pejalan kaki lainnya, lho. Sikap disiplin seperti ini memang sangat bagus untuk ditiru, kan! Selain demi keamanan diri sendiri, patuh di jalan pasti bikin teratur dan lancar.
Jadi Cherry-Girls, kalau kapan-kapan ada kesempatan main ke Jepang, jangan menyeberang sembarangan, ya, soalnya nanti malah malu. ^_^ (amenotoki)

Dimuat di edisi 42, April 2010