Thursday, March 24, 2011

Always Alhamdulillah


Menghadiri acara pernikahan seorang teman beberapa waktu lalu membuat saya merenungkan lagi pencapaian saya selama ini. Kok, bisa gitu? Memang ada kejadian fenomenal apa? Hahahaha! Nggak segitunya, kali! Sama sekali bukan peristiwa dahsyat, kok.

Di acara itu saya ketemu lagi dengan mantan bos saat bekerja di sebuah klinik Jepang. Bos saya ini seorang warga negara Jepang, lelaki 60 tahunan dengan segala standar dan stereotype ke-Jepangannya. Tapi di mata saya, beliau bukan cuma jelmaan buku-buku teori yang saya pelajari sewaktu kuliah dulu. Buat saya, beliau adalah guru yang mengajarkan semangat “samurai”. Meski sakit kalau masih bisa berdiri pantang absen kerja. Kedermawanannya juga sungguh luar biasa. Beliau nggak segan-segan mendonasikan nggak sedikit uangnya untuk sosial ataupun mentraktir kami, anak buahnya. Nggak terhitung juga kebaikannya memberi diskon bahkan menggratiskan pasien-pasien yang berobat padanya. Karena memang faktanya nggak semua ekspatriat (Jepang) yang ada di Jakarta ini bergelimang fasilitas dan kenyamanan, lho. Saya sudah membuktikan itu, berkali-kali. Sifat dermawan dan kepandaiannya mengobati pasien membuatnya cukup dikenal di komunitas orang Jepang yang ada di Jakarta, bahkan di pulau Jawa.

Buat saya pribadi, kebaikannya lebih bermakna saat beliau mengizinkan saya jadi satu-satunya pegawai yang boleh berhijab selagi bekerja. Sungguh saya sangat berterima kasih atas pengertiannya itu.

Selama bekerja padanya, banyak pelajaran dan nasihat yang saya dapat. Seperti halnya pertemuan tempo lalu. Setelah cukup lama berbincang, tepat beberapa saat sebelum pulang, beliau bernasihat begini, “Bagi wanita Jepang ada 3 pencapaian yang harus terpenuhi. Satu, menikah dan punya anak. Kedua, karir yang sukses dan ketiga hati yang bahagia. Minimal harus dapat yang nomor tiga ya, Tika-san.” Lalu beliaupun berlalu. Saat mendengar itu, saya meresponnya dengan senyum dan anggukan takzim. Tentu saja, terlepas dari setuju atau nggak dengan nasihatnya itu, saya menghormatinya dan melihat itu sebagai ungkapan kebaikan. Mungkin untuk mengingatkan, mungkin untuk memotivasi.

Kemudian pulanglah saya dengan perut kenyang, rasa senang karena habis bertemu teman-teman dan nggak ketinggalan hati yang mulai menganalisa, meresapi nasihat Sang Dokter.
Lalu pencerahan, penyadaran apa yang saya dapat dari nasihatnya itu? Beginilah kira-kira…

Pertama, menikah dan punya anak. Sungguh nggak mengada-ada kalau saya bilang sejak dulu saya selalu ingin menikah muda dan punya 3 orang anak, 2 perempuan, 1 lelaki (hehehehe! Cukup detail, kan?). Dan tahun ini untuk kedua kalinya “menikah" ada di list resolusi tahun baru saya. Dengan kesadaran dan keinginan penuh, saya berusaha mencapai ini. Yak, cukup! No further comment!!

Kedua, karir yang sukses. Sebenarnya sampai sekarang saya belum menemukan definisi sukses –yang cocok, pas, mengena di hati-. Walaupun tentunya maksud Pak Dokter itu, sukses ditandai dengan gaji besar dan atau jabatan tinggi di sebuah perusahaan besar.
Mungkin beliau benar. Tapi selagi saya mencari-cari definisi sukses itu, inilah yang jadi prinsip saya : selama saya merasa senang, menikmati, bertumbuh, bertambah pintar, bisa belajar dan dibayar atas pekerjaan yang saya lakukan, maka saya yakin sudah berada di arah yang benar menuju kesuksesan.

Ketiga, hati yang bahagia. Bahagia… Bagi saya, kebahagiaan bukanlah sebuah titik atau garis yang bisa dituju letaknya. Bahagia ada di momen dalam keseharian hidup saya, hidup kita. Bahkan di hari yang kita anggap sangat menyebalkan sekalipun, tentunya kita nggak akan bete seharian, kan? Pasti ada momen sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita nikmati, kita syukuri, yang membuat kita merasa senang. Misalnya senyum sumringah karena bertemu dan bertukar sapa dengan pujaan hati di mushola saat Dhuha, atau hati yang tetap damai meski uang gaji cuma mampir sebentar di rekening kita. Bahagia ada dalam diri kita, dalam keseharian kita, dimulai dari bentuk yang sangat sederhana.

Menelaah nasihat Sang Dokter, mengingatkan kembali apa-apa yang sudah saya lalui, yang sudah saya dapatkan, yang masih saya kejar, yang saya lepaskan, yang nggak mungkin tergenggam.
Lalu saya bisikkan berulang-ulang, sebagai "gambareru omajinai" sebuah kalimat yang saya kutip dari sebuah buku -maaf, saya lupa judulnya-: “Saya tidak bisa mengubah masa lalu, seperti juga saya tidak tahu bagaimana masa depan. Maka saya nikmati, saya syukuri, saya terima yang Allah berikan untuk saya saat ini.”

Jadi, always Alhamdulillah *_*

Jakarta, 24 Maret 2011 ditulis sewaktu hujan