Tuesday, March 29, 2011

La Tahzan - setelah hujan


Sore tadi hujan turun di Margonda
meski pelangi tak datang sesuai janjinya, kau tetap tersenyum

Kau tak ingin lagi menangis
dan hujan telah begitu baik menghanyutkan air matamu dalam derasnya

Kau berdiri, diam…

Rasakanlah, harapan datang dihembus bau tanah setelah hujan

Lantangkanlah pada langit:

“Selamat malam bulan, aku siap jatuh cinta!”


Jakarta, 29 Maret 2009

Thursday, March 24, 2011

Always Alhamdulillah


Menghadiri acara pernikahan seorang teman beberapa waktu lalu membuat saya merenungkan lagi pencapaian saya selama ini. Kok, bisa gitu? Memang ada kejadian fenomenal apa? Hahahaha! Nggak segitunya, kali! Sama sekali bukan peristiwa dahsyat, kok.

Di acara itu saya ketemu lagi dengan mantan bos saat bekerja di sebuah klinik Jepang. Bos saya ini seorang warga negara Jepang, lelaki 60 tahunan dengan segala standar dan stereotype ke-Jepangannya. Tapi di mata saya, beliau bukan cuma jelmaan buku-buku teori yang saya pelajari sewaktu kuliah dulu. Buat saya, beliau adalah guru yang mengajarkan semangat “samurai”. Meski sakit kalau masih bisa berdiri pantang absen kerja. Kedermawanannya juga sungguh luar biasa. Beliau nggak segan-segan mendonasikan nggak sedikit uangnya untuk sosial ataupun mentraktir kami, anak buahnya. Nggak terhitung juga kebaikannya memberi diskon bahkan menggratiskan pasien-pasien yang berobat padanya. Karena memang faktanya nggak semua ekspatriat (Jepang) yang ada di Jakarta ini bergelimang fasilitas dan kenyamanan, lho. Saya sudah membuktikan itu, berkali-kali. Sifat dermawan dan kepandaiannya mengobati pasien membuatnya cukup dikenal di komunitas orang Jepang yang ada di Jakarta, bahkan di pulau Jawa.

Buat saya pribadi, kebaikannya lebih bermakna saat beliau mengizinkan saya jadi satu-satunya pegawai yang boleh berhijab selagi bekerja. Sungguh saya sangat berterima kasih atas pengertiannya itu.

Selama bekerja padanya, banyak pelajaran dan nasihat yang saya dapat. Seperti halnya pertemuan tempo lalu. Setelah cukup lama berbincang, tepat beberapa saat sebelum pulang, beliau bernasihat begini, “Bagi wanita Jepang ada 3 pencapaian yang harus terpenuhi. Satu, menikah dan punya anak. Kedua, karir yang sukses dan ketiga hati yang bahagia. Minimal harus dapat yang nomor tiga ya, Tika-san.” Lalu beliaupun berlalu. Saat mendengar itu, saya meresponnya dengan senyum dan anggukan takzim. Tentu saja, terlepas dari setuju atau nggak dengan nasihatnya itu, saya menghormatinya dan melihat itu sebagai ungkapan kebaikan. Mungkin untuk mengingatkan, mungkin untuk memotivasi.

Kemudian pulanglah saya dengan perut kenyang, rasa senang karena habis bertemu teman-teman dan nggak ketinggalan hati yang mulai menganalisa, meresapi nasihat Sang Dokter.
Lalu pencerahan, penyadaran apa yang saya dapat dari nasihatnya itu? Beginilah kira-kira…

Pertama, menikah dan punya anak. Sungguh nggak mengada-ada kalau saya bilang sejak dulu saya selalu ingin menikah muda dan punya 3 orang anak, 2 perempuan, 1 lelaki (hehehehe! Cukup detail, kan?). Dan tahun ini untuk kedua kalinya “menikah" ada di list resolusi tahun baru saya. Dengan kesadaran dan keinginan penuh, saya berusaha mencapai ini. Yak, cukup! No further comment!!

Kedua, karir yang sukses. Sebenarnya sampai sekarang saya belum menemukan definisi sukses –yang cocok, pas, mengena di hati-. Walaupun tentunya maksud Pak Dokter itu, sukses ditandai dengan gaji besar dan atau jabatan tinggi di sebuah perusahaan besar.
Mungkin beliau benar. Tapi selagi saya mencari-cari definisi sukses itu, inilah yang jadi prinsip saya : selama saya merasa senang, menikmati, bertumbuh, bertambah pintar, bisa belajar dan dibayar atas pekerjaan yang saya lakukan, maka saya yakin sudah berada di arah yang benar menuju kesuksesan.

Ketiga, hati yang bahagia. Bahagia… Bagi saya, kebahagiaan bukanlah sebuah titik atau garis yang bisa dituju letaknya. Bahagia ada di momen dalam keseharian hidup saya, hidup kita. Bahkan di hari yang kita anggap sangat menyebalkan sekalipun, tentunya kita nggak akan bete seharian, kan? Pasti ada momen sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita nikmati, kita syukuri, yang membuat kita merasa senang. Misalnya senyum sumringah karena bertemu dan bertukar sapa dengan pujaan hati di mushola saat Dhuha, atau hati yang tetap damai meski uang gaji cuma mampir sebentar di rekening kita. Bahagia ada dalam diri kita, dalam keseharian kita, dimulai dari bentuk yang sangat sederhana.

Menelaah nasihat Sang Dokter, mengingatkan kembali apa-apa yang sudah saya lalui, yang sudah saya dapatkan, yang masih saya kejar, yang saya lepaskan, yang nggak mungkin tergenggam.
Lalu saya bisikkan berulang-ulang, sebagai "gambareru omajinai" sebuah kalimat yang saya kutip dari sebuah buku -maaf, saya lupa judulnya-: “Saya tidak bisa mengubah masa lalu, seperti juga saya tidak tahu bagaimana masa depan. Maka saya nikmati, saya syukuri, saya terima yang Allah berikan untuk saya saat ini.”

Jadi, always Alhamdulillah *_*

Jakarta, 24 Maret 2011 ditulis sewaktu hujan

Monday, March 21, 2011

Shitsuke Shimashou - belajar disiplin ala Jepang


Berikut adalah artikel yang saya buat untuk sebuah majalah komik. Laporan ringan perjalanan di negeri Sakura.

"Shitsuke, disiplin ala Jepang"


Hai Cherry-Girls, setelah di volume-volume lalu Cherry mengajak kamu jalan-jalan ke daerah wisata di Jepang, kali ini Cherry mengajak kamu menengok rutinitas keseharian orang Jepang khususnya di Tokyo. Ternyata ada yang seru dan uniknya juga, lho. Yuk, kita simak bareng-bareng!

Cherry-Girls pasti pernah dengar tentang sifat orang Jepang yang sangat disiplin, kan? Bahkan katanya disiplin itu sudah jadi budaya, ciri khas bangsa Jepang. Sebenarnya ada banyak penelitian tentang asal muasal “Shitsuke” atau kedisiplinan bangsa Jepang ini. Dari penelitian-penelitian itu lahirlah teori yang bilang sikap disiplin adalah warisan nilai Bushido (militer) yang pernah ditanamkan pada masyarakat Jepang tempo dulu. Ada juga teori yang bilang kedisiplinan itu lahir karena pengaruh iklim Jepang yang menuntut rakyatnya harus “patuh” pada perubahan musim agar bisa bertahan hidup. Yah, pokoknya apapun itu, yang bisa kita lihat, bangsa Jepang sangat terkenal dengan sikap disiplin mereka misalnya soal ketepatan waktu, antre naik bus atau kereta dan juga menyeberang jalan. Nah, untuk hal yang terakhir ini Cherry punya liputannya khusus buat Cherry-Girls, lho.

Di Jepang, khususnya di Tokyo jumlah pejalan kaki jauh lebih banyak daripada orang yang naik kendaraan, apalagi kendaraan pribadi. Karena itulah sebagai pemakai jalan mayoritas, pejalan kaki sangat diutamakan.
Jadi rambu-rambu lalu lintas yang ada, tidak hanya ditujukan untuk kendaraan tapi juga untuk pejalan kaki. Di jalan raya, kita akan banyak menemukan lampu lalu lintas khusus untuk mengatur pejalan kaki. Saat lampunya merah, berarti pejalan kaki harus menunggu di tepi jalan hingga lampu hijau, barulah giliran mereka menyeberang. Saat lampunya hijau, ada suara penanda, seperti suara burung, “kukuk, kukuk”. Suara itu akan terus terdengar sampai lampunya berubah jadi merah lagi.

Sepanjang pengamatan Cherry, para pejalan kaki patuh menunggu lampu hijau, jadi sangat jarang tuh adegan orang menyeberang saat lampu merah meskipun kondisi jalan sepi kendaraan. Wah, kebayang kan bedanya dengan di sini?

Waktu di sana, Cherry juga sabar menunggu di tepi jalan dengan pejalan kaki lainnya, lho. Sikap disiplin seperti ini memang sangat bagus untuk ditiru, kan! Selain demi keamanan diri sendiri, patuh di jalan pasti bikin teratur dan lancar.
Jadi Cherry-Girls, kalau kapan-kapan ada kesempatan main ke Jepang, jangan menyeberang sembarangan, ya, soalnya nanti malah malu. ^_^ (amenotoki)

Dimuat di edisi 42, April 2010

Friday, March 4, 2011

Lewat angin malam

Dengar lelaki ngobrol soal politik, olah raga atau gadget, sering. Dengar lelaki ngobrol nggak penting soal keseksian artis, juga pernah. Tapi baru kali itu, aku dengar lelaki ngobrol soal jodoh.
Karena aku nggak sempat kenalan sama mereka, sebut saja Si Jaket Hitam dan Si Kaos Biru.
Kaos biru, mukanya mengingatkanku pada kondektur metromini 85, beda-beda tipis dengan Mandra. Kalau Jaket Hitam, mirip Ferry Fadli waktu muda. Lumayan ganteng. Euhm… mungkin karena jaketnya?
Dan beginilah obrolan mereka:

Kaos Biru : “Abang udah nikah?”

Jaket Hitam : “Udah, anak 1, perempuan, umur 4 taun.”

Kaos Biru : “Ooh. Nikah umur berapa?”

Jaket Hitam : “33 taun.”

Kaos Biru : “Wah, agak telat dong nikahnya. Sibuk ngejar karir dulu, ya?”

Jaket Hitam : “ Gak juga. Emang ketemu jodohnya umur segitu aja. “ (Good answer, Mas!)

Kaos Biru : “ Kayaknya saya juga calon nikah tua, nih. Soalnya sampe skrg belom ada calon. Umur saya udah 27, padahal.”

Jaket Hitam : “Nanti juga ada waktunya, kok. Santai aja. Saya juga dikasih waktu nikah cuma 5 taun. Terus, ditinggal mati istri.” (Ooh, ternyata Duren!)

Kaos Biru : “ Ooh….”

Jaket Hitam : “Padahal almarhum jauh lebih muda dari saya, tapi malah pergi duluan.”

Kaos Biru : “Ooh…”


Suasana senyap, angin di sepanjang jalan Pd. Indah dingin karena seharian tadi diguyur hujan. Jaket Hitam dan Kaos biru, diam.


Aku : “ Mas Kaos Biru, sabar, ya. 27 masih muda, jauh dari tua. Kalo sampe sekarang belum dapet jodoh, itu berarti Tuhan masih kasih waktu bwt Mas untuk meng-upgrade diri jadi lebih berkwalitas. Supaya kelak layak dapet kepercayaan dari Tuhan untuk diamanati seseorang yang berkwalitas juga. Semangat, Mas!
Mas Jaket Hitam, I like your spirit. Semoga selalu tabah dan kuat dgn ujian hidup ini. Mas ganteng, kok. Pasti banyak perempuan yg bersedia jadi ibu tiri anak, Mas. Aduuh, maaf ya… saya gak pinter menghibur orang…”

Tentu saja kata-kata itu cuma bisa kuucapkan dalam hati lalu kutitip lewat angin malam… Biarlah Allah yang menyampaikan dan membisikkan ke hati mereka.