Friday, August 7, 2009

Kangen

"Lain kali nggak perlu capek-capek teriak dari atas gunung, kali. Bilang aja langsung, bisikin pelan-pelan ke telinganya. Cara itu lebih efektif dan dijamin manjur, deh.”
Itulah reaksi temanku waktu aku cerita tentang kelakuan maha nekatku (baca konyol) saat kangen seseorang. Kangen… salah satu kondisi yang membuatku mati kutu, nggak berdaya, nggak tau mesti gimana.
Kalau lagi “dihajar” rasa ini, paling-paling aku cuma bisa curhat di diary atau bahkan menangis.

Tapi kali itu aku mau bertindak, berbuat! Maka kuputuskan ikut tur mendaki gunung Fuji, akhir Juli 2000 silam. Niatku sederhana sekaligus konyol, aku ingin meneriakkan nama dia -seseorang yang bertahun-tahun aku rindukan- dari atas gunung itu.
Katanya kalau berteriak dari tempat Para Dewa (Jepang) bertahta, angin Dewa akan membawa suara kita ke hati orang itu, dan dia akan merasakan rindu yang kita pendam untuknya (aku lupa dari siapa dan di mana aku dengar hipotesa ajaib ini. Aih, sungguh tak bertanggung jawabnya diriku).
Maka berangkatlah aku menuju puncak Fuji dengan bertonton rindu menyesaki dada (hallah). Begitu sampai di tempat tujuan… sekuat tenaga, dengan segala lelah tubuh, haus dan kangen, aku teriakkan namanya…
Setelah diteriakkan, hilangkah rasa kangen itu? Sama sekali tidak.
Terdengarkah olehnya?
Benarkah angin dewa menghembuskan jerit hatiku hingga tiba di hatinya?
Sadarkah dia, aku sangat merindukannya?
Tahukah dia, aku daki ribuan kilo untuk meneriakkan namanya?
Mungkin tidak… entahlah… aku nggak pernah sempat bertanya, karena kami nggak pernah ketemu lagi.
Tapi aku lega sekali bisa melakukan itu. Aku lega dan bangga sanggup menempuh ribuan kilo demi menyampaikan isi hati yang pastinya nggak akan sanggup kukatakan sambil menatap matanya karena buatku itu butuh lebih banyak keberanian dan kekuatan.

Tahun-tahun berlalu, masihkah aku rindu padanya? Ya, kadang-kadang.
Dan bukankah jika kita menyimpan seseorang dalam hati kita, akan ada satu saat dalam hidup kita di mana kita sangat merindukan orang itu.
Maka biarlah, nikmati saja.

Semoga kelak kalau aku kangen seseorang, aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk mengatakannya, tanpa perlu berteriak, tanpa perlu nekat mendaki gunung. Aku hanya harus jujur dan tulus, mengatakan apa yang kurasa sambil menatap matanya dan berbisik pelan… “Aku kangen kamu.”

1 comment:

  1. Tik...
    Kalo udah di depan mata...susah banget keluarnya...
    Maluuu....

    ReplyDelete